Ilusi Kesejahteraan: Ketika Politik Ekonomi Hanya Menjadi Ladang Subur Bagi Elit
Politik ekonomi, pada hakikatnya, adalah studi tentang bagaimana kekuatan politik memengaruhi keputusan ekonomi dan bagaimana keputusan ekonomi memengaruhi distribusi kekuasaan. Seharusnya, instrumen ini dirancang untuk menciptakan kesejahteraan bersama, menyeimbangkan pertumbuhan dengan pemerataan, dan memastikan setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Namun, dalam banyak kasus, apa yang kita saksikan adalah arena di mana kebijakan-kebijakan ekonomi justru dirancang, diterapkan, dan pada akhirnya, hanya menguntungkan segelintir kelompok elit yang memiliki akses dan pengaruh. Ini bukan sekadar kegagalan sistem, melainkan seringkali merupakan hasil dari desain yang disengaja atau setidaknya toleransi terhadap praktik-praktik yang merusak.
Anatomi Penangkapan Negara (State Capture) dan Kebijakan yang Tersimpangkan
Fenomena di mana kebijakan ekonomi hanya menguntungkan elit seringkali berakar pada apa yang disebut "penangkapan negara" (state capture) atau "regulatory capture". Ini terjadi ketika kepentingan kelompok elit – baik itu korporasi besar, konglomerat, atau individu super kaya – mampu memengaruhi atau bahkan mendikte proses pembuatan kebijakan publik. Mereka menggunakan berbagai saluran:
- Lobi dan Sumbangan Politik: Uang adalah pelumas dalam mesin politik. Sumbangan kampanye yang besar, hadiah, atau biaya lobi yang fantastis dapat membeli akses langsung ke pembuat keputusan. Dalam koridor kekuasaan, kepentingan bisnis dapat disisipkan ke dalam rancangan undang-undang, peraturan, atau keputusan investasi strategis.
- Pintu Putar (Revolving Door): Individu-individu yang sebelumnya menjabat di sektor publik (misalnya, regulator, pejabat kementerian) kemudian beralih ke posisi bergaji tinggi di sektor swasta yang mereka awasi atau atur sebelumnya. Sebaliknya, eksekutif perusahaan dapat menduduki posisi kunci di pemerintahan. Hal ini menciptakan konflik kepentingan yang inheren, di mana pengetahuan dan koneksi dari jabatan publik digunakan untuk keuntungan swasta, dan sebaliknya.
- Pengaruh Media dan Narasi: Elit ekonomi juga seringkali memiliki kendali atau pengaruh signifikan terhadap media massa. Ini memungkinkan mereka membentuk opini publik, mempromosikan narasi yang mendukung kebijakan pro-bisnis mereka, dan membungkam kritik terhadap praktik-praktik yang merugikan masyarakat luas.
Ketika mekanisme ini beroperasi, hasilnya adalah kebijakan yang tersimpangkan dari tujuan mulianya:
- Sistem Perpajakan Regresif: Alih-alih menerapkan pajak progresif yang lebih besar kepada mereka yang berpenghasilan tinggi dan korporasi raksasa, kebijakan pajak justru seringkali memiliki celah yang menguntungkan para elit. Insentif pajak yang masif, tarif pajak korporasi yang rendah, atau bahkan skema pengampunan pajak (tax amnesty) yang tidak efektif dalam jangka panjang, seringkali hanya dinikmati oleh segelintir orang kaya dan perusahaan besar, sementara beban pajak terbesar justru ditanggung oleh kelas menengah dan pekerja melalui pajak tidak langsung atau PPN.
- Deregulasi Berlebihan: Di bawah dalih "mempermudah investasi" atau "menciptakan iklim bisnis yang kondusif," kebijakan deregulasi seringkali melonggarkan standar lingkungan, ketenagakerjaan, dan keuangan. Ini memungkinkan perusahaan besar untuk memangkas biaya operasional, namun konsekuensinya adalah kerusakan lingkungan, eksploitasi pekerja, dan risiko krisis keuangan yang pada akhirnya harus ditanggung oleh masyarakat.
- Subsidi dan Insentif yang Salah Sasaran: Bantuan finansial dan insentif pajak yang masif, yang seharusnya mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif, seringkali justru mengalir ke korporasi besar yang sudah mapan atau proyek-proyek infrastruktur yang hanya menguntungkan pengembang tertentu, bukan untuk usaha kecil menengah (UKM) atau layanan publik esensial.
- Privatisasi Aset Publik: Aset publik yang vital, mulai dari sumber daya alam hingga utilitas dasar seperti air dan listrik, seringkali dijual murah kepada pihak-pihak yang memiliki koneksi politik. Ini menciptakan monopoli swasta yang dapat menaikkan harga dan menurunkan kualitas layanan, sementara keuntungan mengalir ke kantong segelintir orang.
- Lemahnya Pengawasan Anti-Monopoli: Kurangnya pengawasan anti-monopoli yang efektif memungkinkan terbentuknya oligopoli atau bahkan monopoli di sektor-sektor kunci. Ini membatasi persaingan, menghambat inovasi, dan memungkinkan perusahaan-perusahaan dominan untuk menekan harga bagi pemasok kecil dan membebankan harga tinggi kepada konsumen.
Konsekuensi Sosial dan Ekonomi
Dampak dari politik ekonomi yang berpihak pada elit sangatlah merusak:
- Melebarnya Jurang Kesenjangan: Ini adalah konsekuensi paling nyata. Kekayaan dan pendapatan semakin terkonsentrasi di tangan segelintir orang, sementara mayoritas masyarakat berjuang dengan stagnasi upah riil, biaya hidup yang meningkat, dan akses terbatas terhadap pendidikan, kesehatan, dan perumahan yang layak.
- Terhambatnya Mobilitas Sosial: Dengan sumber daya dan kesempatan yang terakumulasi di puncak, tangga mobilitas sosial menjadi semakin curam dan licin. Anak-anak dari keluarga miskin atau menengah kesulitan untuk naik kelas ekonomi, menciptakan lingkaran kemiskinan dan ketidaksetaraan yang sulit diputus.
- Erosi Kepercayaan Publik: Ketika masyarakat melihat bahwa sistem tidak bekerja untuk mereka, melainkan untuk kepentingan segelintir orang, kepercayaan terhadap institusi demokrasi, pemerintah, dan bahkan pasar akan terkikis. Ini dapat memicu sinisme politik dan apatisme.
- Potensi Instabilitas Sosial dan Politik: Ketidakpuasan yang terakumulasi akibat ketidakadilan ekonomi dapat meledak menjadi protes sosial, kerusuhan, atau bahkan gerakan politik ekstrem yang mengancam stabilitas nasional.
- Menghambat Pertumbuhan Ekonomi Jangka Panjang: Meskipun kebijakan pro-elit mungkin menghasilkan pertumbuhan PDB yang tinggi dalam jangka pendek, kesenjangan yang ekstrem pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan berkelanjutan. Konsumsi domestik melemah, inovasi terhambat karena kurangnya investasi pada sumber daya manusia yang lebih luas, dan pasar menjadi kurang dinamis.
Jalan Menuju Politik Ekonomi yang Inklusif
Menciptakan politik ekonomi yang adil dan inklusif bukanlah tugas mudah, namun esensial. Ini membutuhkan:
- Penguatan Institusi Demokrasi: Memperkuat lembaga legislatif, yudikatif, dan penegak hukum agar independen dari pengaruh kepentingan elit.
- Transparansi dan Akuntabilitas: Mewajibkan transparansi penuh dalam pendanaan politik, proses lobi, dan pengambilan keputusan kebijakan. Memastikan akuntabilitas pejabat publik dan korporasi.
- Reformasi Perpajakan Progresif: Mendesain ulang sistem pajak agar lebih adil, menutup celah pajak, dan memastikan korporasi besar serta individu super kaya membayar bagian yang wajar.
- Penegakan Hukum Anti-Monopoli yang Tegas: Mencegah terbentuknya monopoli dan oligopoli yang merugikan konsumen dan persaingan sehat.
- Perlindungan Lingkungan dan Ketenagakerjaan: Memperkuat regulasi yang melindungi lingkungan dan hak-hak pekerja, bukan melonggarkannya demi keuntungan sesaat.
- Peningkatan Partisipasi Publik: Memberi ruang lebih besar bagi masyarakat sipil, serikat pekerja, dan kelompok advokasi untuk menyuarakan kepentingan mereka dalam proses pembuatan kebijakan.
- Kepemimpinan yang Berintegritas: Membutuhkan pemimpin yang memiliki visi untuk kesejahteraan bersama dan keberanian untuk melawan tekanan dari kelompok kepentingan.
Ketika kebijakan ekonomi hanya menjadi ladang subur bagi elit, janji kemakmuran bersama hanyalah ilusi. Sudah saatnya kita menuntut dan membangun sistem politik ekonomi yang benar-benar melayani seluruh rakyat, bukan hanya segelintir orang di puncak piramida kekuasaan dan kekayaan. Hanya dengan demikian, keadilan ekonomi dapat menjadi fondasi bagi stabilitas dan kemajuan yang berkelanjutan.
