Berita  

Pergelaran Adat Lokal Tarik Perhatian Bumi

Ketika Bumi Bertutur, Leluhur Tersenyum: Keagungan Pergelaran Adat ‘Syukur Bumi Pertiwi’ yang Memukau Jagat

Di tengah hiruk-pikuk modernisasi dan gemerlap teknologi, masih ada denyutan jantung tradisi yang berdetak kuat di pelosok nusantara. Ia bukan sekadar ritual usang, melainkan sebuah manifestasi kearifan yang tak lekang oleh waktu, mampu memikat bukan hanya hati sanak saudara, namun juga pandangan mata dari seantero jagat. Salah satunya adalah "Upacara Adat Syukur Bumi Pertiwi" dari Masyarakat Adat Kaki Langit, sebuah pergelaran yang telah menjelma menjadi magnet budaya, menarik perhatian dunia dengan keaslian, kedalaman spiritual, dan kemegahan visualnya.

Mengenal Akar ‘Syukur Bumi Pertiwi’

Bersembunyi di balik hijaunya lembah dan kokohnya pegunungan di wilayah yang kami sebut sebagai Desa Luhur Lestari – sebuah nama fiktif yang merepresentasikan desa-desa adat yang masih menjaga kelestarian – Masyarakat Adat Kaki Langit telah turun-temurun menggelar Upacara Adat Syukur Bumi Pertiwi. Ini bukan hanya festival panen biasa. Ia adalah puncak dari rasa hormat dan terima kasih tak terhingga kepada Ibu Pertiwi (Bumi) yang telah memberikan kehidupan, kepada Leluhur yang telah membimbing, dan kepada semesta yang menjaga keseimbangan.

Filosofi di baliknya sangatlah mendalam: manusia adalah bagian tak terpisahkan dari alam. Keseimbangan harus dijaga. Apa yang diambil harus dikembalikan dalam bentuk penghormatan dan pelestarian. Upacara ini digelar setiap tahun setelah musim panen raya, menjadi pengingat kolektif bahwa rezeki bukan hanya hasil keringat, melainkan juga anugerah Ilahi yang dititipkan melalui kesuburan tanah.

Persiapan yang Menggetarkan Jiwa: Berbulan-bulan dalam Harmoni

Keagungan Syukur Bumi Pertiwi tidak hanya terlihat pada puncaknya, namun terasa sejak berbulan-bulan sebelumnya. Seluruh warga Desa Luhur Lestari terlibat dalam persiapan yang sarat makna. Kaum wanita, dengan tangan-tangan terampilnya, mulai menenun kain-kain adat berwarna cerah yang akan dikenakan saat upacara. Setiap motif memiliki cerita, setiap benang adalah doa. Mereka juga menyiapkan berbagai jenis sesaji (persembahan) dari hasil bumi terbaik: padi, jagung, umbi-umbian, buah-buahan, hingga hewan ternak kecil yang akan disembelih secara adat.

Para pria bertanggung jawab membersihkan situs-situs keramat, memperbaiki jalan setapak menuju tempat upacara utama, dan membuat aneka patung serta ukiran dari kayu yang akan menjadi simbol persembahan atau penolak bala. Anak-anak muda, di bawah bimbingan para tetua, berlatih tari-tarian sakral dan musik gamelan atau instrumen tradisional lainnya. Setiap gerakan, setiap nada, bukan sekadar koreografi atau melodi, melainkan narasi bisu yang mengisahkan sejarah, mitos, dan nilai-nilai luhur masyarakat Kaki Langit. Semangat gotong royong dan kebersamaan menjadi denyut nadi yang menghidupkan persiapan ini, menyatukan seluruh elemen masyarakat dalam satu tujuan suci.

Puncak Pergelaran: Harmoni Spiritual dan Visual yang Memukau

Hari yang dinanti tiba. Fajar menyingsing dengan iringan suara seruling bambu yang syahdu dan tabuhan gendang yang menggetarkan. Udara pagi dipenuhi aroma dupa dan bunga-bunga segar. Warga desa berkumpul di pusat desa, mengenakan pakaian adat terbaik mereka yang berwarna-warni, dihiasi perhiasan perak dan emas kuno.

Prosesi dimulai. Barisan para tetua adat, pemimpin spiritual (disebut ‘Panglima Adat’ atau ‘Dukun Besar’), dan para penari membentuk formasi indah. Mereka berjalan perlahan menuju situs upacara utama, sebuah altar batu kuno di tengah hutan yang diyakini sebagai gerbang antara dunia nyata dan spiritual. Di depan barisan, beberapa pria membawa sesaji utama di atas nampan kayu yang diukir indah, sementara wanita muda menaburkan bunga di sepanjang jalan.

Musik mengalun semakin kencang, kadang melambat menjadi melodi meditatif. Tarian-tarian sakral dimulai. Gerakan gemulai para penari wanita melambangkan kesuburan dan keanggunan Ibu Pertiwi, sementara tarian energik para pria dengan pedang atau tombak melambangkan kekuatan dan perlindungan. Ada kalanya, beberapa penari atau Panglima Adat memasuki kondisi trans, diyakini sebagai saat roh leluhur hadir dan memberikan restu. Ini adalah momen paling sakral, di mana batas antara dunia fisik dan spiritual menjadi kabur, menyisakan aura magis yang kuat.

Panglima Adat kemudian memimpin ritual inti. Doa-doa dipanjatkan dalam bahasa kuno, memohon berkah, perlindungan, dan kelestarian alam. Sesaji-sesaji dipersembahkan, sebagian diletakkan di altar, sebagian dihanyutkan ke sungai sebagai persembahan kepada roh air, dan sebagian lagi dibagikan kepada seluruh warga sebagai simbol berkat yang merata. Seluruh prosesi berlangsung selama berjam-jam, diwarnai dengan nyanyian-nyanyian kolektif, tangisan haru, dan senyuman syukur.

Mengapa ‘Syukur Bumi Pertiwi’ Menarik Perhatian Dunia?

Keunikan dan kedalaman Upacara Adat Syukur Bumi Pertiwi telah menarik perhatian dari berbagai penjuru dunia, dari antropolog, fotografer, jurnalis, hingga wisatawan pencari makna. Ada beberapa alasan mengapa pergelaran ini begitu memikat:

  1. Keaslian dan Otentisitas: Di era globalisasi, banyak tradisi yang tergerus atau dikomodifikasi. Syukur Bumi Pertiwi tetap murni, dijalankan dengan niat tulus dan tanpa pretensi untuk tontonan semata. Pengunjung dapat merasakan energi spiritual yang sesungguhnya.
  2. Narasi Lingkungan yang Kuat: Pesan utama tentang menjaga keseimbangan alam dan menghormati bumi adalah resonansi universal yang sangat relevan dengan krisis iklim global saat ini. Masyarakat adat ini menjadi contoh nyata bagaimana hidup harmonis dengan alam.
  3. Kekayaan Visual dan Sensoris: Pakaian adat yang indah, tarian yang memukau, musik yang menghanyutkan, aroma dupa, hingga cita rasa makanan tradisional yang lezat – semua menawarkan pengalaman multisensorik yang tak terlupakan.
  4. Kearifan Lokal yang Mendalam: Upacara ini adalah jendela untuk memahami filosofi hidup, struktur sosial, dan spiritualitas sebuah komunitas yang masih memegang teguh nilai-nilai leluhur. Ini adalah pembelajaran berharga bagi dunia modern.
  5. Potensi Ekowisata Budaya Berkelanjutan: Dengan pengelolaan yang bijak, pergelaran ini bisa menjadi model ekowisata budaya yang menghormati tradisi, memberdayakan ekonomi lokal, dan mendidik pengunjung tentang pentingnya pelestarian budaya dan lingkungan.

Warisan yang Harus Terjaga

Upacara Adat Syukur Bumi Pertiwi bukan sekadar pergelaran; ia adalah jiwa dari Masyarakat Adat Kaki Langit, sebuah warisan tak ternilai yang mampu bertutur tentang hubungan abadi antara manusia, alam, dan leluhur. Ia adalah pengingat bahwa di tengah gemuruh kemajuan, ada keheningan spiritual yang jauh lebih kuat, yang mampu menarik perhatian bumi dan membuat leluhur tersenyum bangga. Melestarikan tradisi ini berarti menjaga salah satu permata paling berharga dari khazanah budaya manusia, sebuah cahaya yang terus bersinar, membimbing kita kembali pada akar dan kearifan sejati.

Exit mobile version