Misteri Hilangnya Arloji Antik dari Toko Tua

Lenyapnya ‘Chronos’: Misteri Abadi dari Toko Tua ‘Waktu yang Terlupa’

Di jantung kota lama, terselip sebuah toko yang seolah membeku dalam dekapan waktu: "Waktu yang Terlupa". Bukan sekadar toko, melainkan museum pribadi milik Pak Budi, seorang lelaki tua dengan mata yang menyimpan seribu kisah dan jari-jari yang akrab dengan sentuhan benda-benda antik. Udara di dalamnya selalu beraroma kayu tua, debu yang menua bersama kenangan, dan bisikan sejarah dari setiap sudutnya. Namun, dari semua harta karun yang ia jaga, ada satu yang paling istimewa, sebuah jam saku antik yang dikenal sebagai ‘Chronos’. Dan hilangnya Chronos, adalah misteri yang hingga kini, mengikis akal dan meninggalkan tanda tanya abadi.

Sang Primadona: ‘Chronos’ yang Melegenda

Chronos bukanlah jam saku biasa. Dibuat di Swiss pada akhir abad ke-18, tubuhnya terbuat dari emas murni dengan ukiran rumit yang menggambarkan dewa waktu Yunani. Setiap dentingnya terdengar merdu, melampaui suara jam modern mana pun. Konon, jam itu pernah dimiliki oleh seorang bangsawan Eropa, dan diyakini memiliki "jiwa" yang mampu merasakan dan menyimpan setiap momen berharga yang dilaluinya. Bagi Pak Budi, Chronos bukan sekadar barang dagangan, melainkan bagian dari jiwanya, puncak dari koleksinya, dan simbol keabadian waktu.

Chronos selalu dipajang di etalase kaca paling depan, di bawah sorotan lampu kecil yang membuatnya bersinar redup. Pak Budi akan membersihkannya setiap pagi dengan kain beludru khusus, memastikan tidak ada setitik debu pun yang mengotori keindahannya. Setiap malam, ia akan mengambilnya, memutar kuncinya dengan hati-hati, dan menyimpannya di dalam brankas kuno yang tersembunyi.

Malam yang Biasa, Pagi yang Mengejutkan

Malam itu, seperti biasa, Pak Budi melakukan rutinitasnya. Ia memeriksa setiap etalase, memastikan semua terkunci rapat, dan terakhir, ia mengambil Chronos dari etalase. "Sampai jumpa besok, kawan," bisiknya lembut, sebuah kebiasaan kecil yang hanya ia dan jam itu yang tahu. Ia memutar kuncinya, mendengar dentingan khas, lalu memasukkannya ke dalam brankas. Setelah memastikan pintu toko terkunci ganda, ia pulang ke rumahnya yang terletak di belakang toko.

Namun, pagi yang seharusnya tenang, berubah menjadi awal dari sebuah teka-teki. Ketika Pak Budi membuka brankas untuk mengambil Chronos, ia menemukan sebuah kekosongan yang mengerikan. Kotak beludru tempat Chronos biasa bersemayam, kosong melompong. Jantung Pak Budi seolah berhenti berdetak. Ia mengira ia salah lihat, mungkin ia lupa. Ia meraba-raba ke dalam kotak, menggeledah setiap sudut brankas, bahkan memeriksa kembali etalase. Nihil. Chronos lenyap.

Penyelidikan Tanpa Jejak

Panik, Pak Budi segera menghubungi pihak berwajib. Sersan Rudi, seorang detektif lokal yang dikenal dengan ketajamannya, tiba tak lama kemudian. Seluruh toko digeledah dengan cermat, namun hasilnya nihil. Tidak ada jejak paksa masuk: pintu tidak didobrak, jendela tidak pecah, gembok brankas tidak rusak sedikit pun. Bahkan sistem alarm kuno yang dipasang Pak Budi tidak berbunyi.

"Ini aneh sekali, Pak Budi," ujar Sersan Rudi, menggaruk kepalanya. "Tidak ada sidik jari asing, tidak ada tanda-tanda pencurian sama sekali. Seolah-olah jam itu… menguap begitu saja."

Pak Budi hanya bisa mengangguk, matanya menatap kosong ke etalase tempat Chronos biasa bersinar. Bagaimana mungkin sebuah benda seberharga itu, yang ia jaga dengan sepenuh hati, bisa menghilang begitu saja tanpa jejak sedikit pun? Apakah ia salah meletakkannya? Tidak mungkin. Ia sangat teliti. Apakah ia bermimpi? Sayangnya, kekosongan di hatinya adalah bukti nyata.

Desas-desus dan Spekulasi

Kabar hilangnya Chronos menyebar cepat di kalangan masyarakat kota lama. Berbagai teori dan spekulasi pun bermunculan:

  • Pencuri profesional: Ada yang menduga ini adalah pekerjaan pencuri tingkat tinggi yang sangat licik, mampu menembus keamanan tanpa meninggalkan jejak. Namun, apa motifnya jika tidak ada barang lain yang hilang?
  • Kekuatan supranatural: Beberapa orang tua meyakini bahwa Chronos, dengan sejarah panjangnya, mungkin memiliki "kehendak" sendiri dan memutuskan untuk kembali ke zamannya, atau berpindah dimensi.
  • Kesalahan manusia: Ada juga yang berpikir Pak Budi mungkin lupa, atau dalam kepikunannya, menyimpannya di tempat yang tidak biasa. Namun, hal ini dibantah keras oleh Pak Budi, yang ingatannya tentang Chronos sangat tajam.
  • Kutukan: Teori paling gelap menyebutkan bahwa Chronos mungkin membawa kutukan bagi pemiliknya, dan hilangnya adalah bagian dari itu.

Misteri yang Mengikis Waktu

Minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Penyelidikan Sersan Rudi berakhir dengan status "kasus yang belum terpecahkan". Chronos tidak pernah ditemukan. Tidak ada petunjuk baru, tidak ada kesaksian yang berarti. Toko "Waktu yang Terlupa" tetap buka, namun aura Pak Budi sedikit berubah. Ada kesedihan yang tak terucapkan di matanya, kerinduan akan sebuah benda yang lebih dari sekadar materi.

Hilangnya Chronos menjadi legenda tersendiri bagi toko tua itu. Pelanggan yang datang sering bertanya tentang misteri itu, dan Pak Budi akan menceritakannya dengan suara yang bergetar, namun dengan keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa suatu hari, Chronos akan kembali. Entah bagaimana, entah kapan.

Misteri hilangnya Chronos dari Toko Tua ‘Waktu yang Terlupa’ tetap menjadi salah satu teka-teki paling membingungkan di kota itu. Sebuah pengingat bahwa tidak semua pertanyaan memiliki jawaban, dan beberapa benda, mungkin, memiliki takdirnya sendiri, melampaui pemahaman manusia. Dan di antara dentingan jam-jam antik lainnya, keheningan di tempat Chronos biasa bersinar adalah bukti abadi akan sebuah kehilangan yang tak terpecahkan, sebuah misteri yang terus hidup dalam setiap detik "waktu yang terlupa".

Exit mobile version