Ketika Politik Kehilangan Pesona: Menguak Akar Apatisme Generasi Z terhadap Isu Nasional
Generasi Z, yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, adalah kelompok demografi yang unik. Mereka tumbuh di era digital penuh, terhubung secara global, dan memiliki akses informasi yang belum pernah ada sebelumnya. Namun, di balik konektivitas yang masif ini, muncul sebuah paradoks yang menarik perhatian: banyak dari mereka menunjukkan tingkat apatisme yang tinggi terhadap isu politik nasional, bahkan cenderung menjauh dari diskursus politik tradisional. Mengapa demikian? Apakah ini sekadar ketidakpedulian, atau ada akar masalah yang lebih dalam yang perlu kita pahami?
Fenomena ini bukanlah sekadar sikap malas atau tidak peduli, melainkan cerminan dari kompleksitas interaksi antara nilai-nilai Generasi Z, realitas politik kontemporer, dan cara informasi dikonsumsi di era digital. Mari kita selami lebih dalam beberapa alasan utama di balik apatisme ini.
1. Erosi Kepercayaan dan Disillusionment Politik
Generasi Z adalah saksi mata dari serangkaian skandal korupsi, janji-janji politik yang tak terpenuhi, dan drama politik yang terasa lebih seperti sinetron daripada upaya serius membangun bangsa. Mereka melihat bagaimana politisi seringkali lebih sibuk saling menjatuhkan atau mempertahankan kekuasaan daripada benar-benar melayani rakyat. Paparan konstan terhadap berita negatif ini, yang diperkuat oleh algoritma media sosial, menciptakan rasa disillusionment atau kekecewaan mendalam.
Bagi Gen Z, sistem politik seringkali terlihat sebagai lingkaran setan yang korup, tidak transparan, dan tidak responsif terhadap kebutuhan mereka. Mereka merasa bahwa suara mereka tidak akan membuat perbedaan signifikan, dan bahwa para pemimpin politik tidak benar-benar mewakili kepentingan mereka, melainkan kepentingan kelompok atau pribadi. Akibatnya, mereka memilih untuk menarik diri sebagai bentuk penolakan pasif terhadap sistem yang mereka anggap rusak.
2. Banjir Informasi dan Kelelahan Digital (Digital Fatigue)
Tumbuh di tengah lautan informasi, Gen Z terbiasa dengan kecepatan dan volume data yang luar biasa. Namun, ini juga membawa dampak negatif. Mereka seringkali kesulitan membedakan antara fakta, opini, hoaks, dan disinformasi, terutama dalam ranah politik. Berita politik yang seringkali sensasional, bias, atau bahkan palsu, membuat mereka lelah dan frustrasi.
Alih-alih merasa tercerahkan, mereka justru merasa kewalahan. Fenomena "digital fatigue" atau kelelahan digital membuat mereka enggan menyelami lebih jauh isu-isu politik yang rumit dan seringkali memicu perdebatan sengit. Mereka lebih memilih untuk membatasi paparan terhadap konten yang memicu stres atau ketidakpastian, termasuk politik. Lingkaran filter (filter bubble) dan kamar gema (echo chamber) di media sosial juga memperparuh masalah ini, di mana mereka hanya terpapar pada pandangan yang sudah selaras dengan keyakinan mereka, menjauhkan mereka dari dialog politik yang konstruktif.
3. Prioritas Berbeda dan Relevansi Isu
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang mungkin lebih fokus pada isu makroekonomi atau ideologi politik, Gen Z memiliki prioritas yang lebih spesifik dan seringkali bersifat mikro atau sosial. Mereka sangat peduli terhadap isu-isu seperti perubahan iklim, kesetaraan gender, hak asasi manusia, kesehatan mental, dan keadilan sosial.
Ketika isu-isu ini tidak menjadi agenda utama atau hanya menjadi retorika kosong dalam politik nasional, Gen Z merasa tidak terwakili. Mereka melihat politisi terlalu banyak berdebat tentang hal-hal yang tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka atau masa depan planet ini. Akibatnya, mereka cenderung mengalihkan energi dan aktivisme mereka ke platform atau gerakan sosial yang lebih langsung dan terasa lebih relevan, seperti petisi online, kampanye media sosial, atau aksi-aksi lokal, daripada terlibat dalam politik partai atau pemilihan umum.
4. Kecemasan Ekonomi dan Masa Depan yang Tidak Pasti
Generasi Z adalah generasi yang dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi yang signifikan. Mereka menghadapi tantangan seperti sulitnya mencari lapangan kerja yang stabil, biaya hidup yang terus meningkat, harga properti yang tidak terjangkau, dan beban utang pendidikan. Kecemasan akan masa depan pribadi ini membuat mereka memprioritaskan keamanan finansial dan stabilitas hidup di atas segalanya.
Bagi mereka, politik nasional seringkali terasa tidak memberikan solusi konkret terhadap masalah-masalah fundamental ini, bahkan terkadang menjadi bagian dari masalahnya. Mereka cenderung berpikir, "Bagaimana politik bisa membantuku mendapatkan pekerjaan atau memiliki rumah?" Ketika politik terasa tidak memberikan jawaban nyata atau justru memperburuk kondisi mereka, fokus mereka bergeser ke upaya pribadi untuk bertahan hidup dan mencapai kemapanan, bukan terlibat dalam hiruk-pikuk politik.
5. Gap Komunikasi dan Bahasa Politik yang Kaku
Politik tradisional seringkali menggunakan bahasa yang formal, jargon yang rumit, dan gaya komunikasi yang kaku, yang terasa asing dan tidak menarik bagi Gen Z. Mereka terbiasa dengan komunikasi yang cepat, lugas, visual, dan otentik di platform digital. Politisi yang gagal beradaptasi dengan gaya komunikasi ini akan kesulitan menarik perhatian dan empati Gen Z.
Selain itu, ada kesenjangan generasi dalam cara pandang dan nilai-nilai. Gen Z seringkali merasa bahwa generasi politisi yang lebih tua tidak memahami tantangan dan aspirasi mereka. Narasi politik yang diwarnai ideologi lama atau nostalgia masa lalu terasa tidak relevan bagi generasi yang memandang ke depan dengan perspektif global dan inklusif.
Bukan Apatis, Tapi Kritis dan Selektif
Penting untuk dicatat bahwa apatisme Gen Z terhadap politik nasional mungkin bukan berarti mereka sepenuhnya tidak peduli. Sebaliknya, ini bisa diinterpretasikan sebagai bentuk kritis dan selektif. Mereka tidak menolak politik itu sendiri, tetapi menolak bentuk, isi, dan praktik politik yang mereka anggap tidak efektif, tidak jujur, atau tidak relevan.
Mereka mungkin tidak tertarik pada politik partai, tetapi sangat antusias terhadap isu-isu sosial dan lingkungan. Mereka mungkin tidak mengikuti berita politik di TV, tetapi aktif di media sosial untuk menyuarakan ketidakadilan. Ini adalah generasi yang mencari otentisitas, transparansi, dan dampak nyata.
Menuju Jembatan Pemahaman
Untuk mengatasi apatisme ini, bukan hanya Gen Z yang harus berubah, tetapi juga sistem politik itu sendiri. Para politisi dan lembaga negara perlu:
- Membangun Kembali Kepercayaan: Dengan tindakan nyata, transparansi, dan akuntabilitas.
- Beradaptasi dengan Gaya Komunikasi Gen Z: Lebih otentik, visual, dan menggunakan platform yang relevan.
- Memprioritaskan Isu-isu yang Relevan: Mendengarkan dan merespons kekhawatiran Gen Z tentang lingkungan, kesetaraan, dan masa depan ekonomi.
- Membuka Ruang Partisipasi yang Bermakna: Memberikan kesempatan bagi Gen Z untuk terlibat dalam pembuatan kebijakan secara langsung, bukan hanya sebagai objek politik.
Apatisme Gen Z terhadap politik nasional adalah panggilan untuk refleksi mendalam. Ini bukan sekadar tantangan bagi demokrasi, tetapi juga peluang untuk merevitalisasi politik agar menjadi lebih inklusif, relevan, dan responsif terhadap generasi yang akan mewarisi masa depan. Jika politik ingin kembali mempesona, ia harus berani berubah.
