Arena Politik, Panggung Hiburan: Menguak Strategi Media Arus Utama dalam Mengkomodifikasi Demokrasi
Pernahkah Anda merasa bahwa berita politik kini lebih mirip serial drama televisi daripada laporan informatif? Bahwa debat antar politisi tak ubahnya pertandingan gulat dengan narasi "hero" dan "villain" yang jelas? Jika ya, Anda tidak sendirian. Di era digital yang serba cepat ini, media arus utama—dari televisi, radio, hingga portal berita online—telah secara sistematis mengubah lanskap politik dari forum diskusi serius menjadi arena hiburan, tempat demokrasi dikomodifikasi demi rating, klik, dan keuntungan.
Dari Substansi ke Spektakel: Pergeseran Paradigma Media
Pada dasarnya, media memiliki peran krusial dalam demokrasi: menginformasikan publik, mengawasi kekuasaan, dan memfasilitasi debat yang konstruktif. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, peran ini mengalami pergeseran signifikan. Dorongan untuk menarik perhatian audiens di tengah persaingan ketat, ditambah dengan tekanan ekonomi untuk menghasilkan keuntungan, telah mendorong media untuk mengadopsi pendekatan yang lebih sensasional dan dramatis terhadap politik.
Politik tidak lagi disajikan sebagai rangkaian kebijakan kompleks yang membutuhkan analisis mendalam, melainkan sebagai narasi yang disederhanakan, penuh konflik pribadi, intrik, dan drama. Pertarungan ideologi atau gagasan substansial seringkali dikesampingkan demi menyoroti kepribadian politisi, gaya komunikasi mereka, kesalahan bicara (gaffes), skandal pribadi, atau bahkan penampilan fisik.
Mekanisme Komodifikasi: Bagaimana Media Membangun "Drama Politik"
Media arus utama menggunakan berbagai strategi untuk mengubah politik menjadi komoditas hiburan:
-
Penciptaan Narasi "Hero & Villain": Setiap kontestasi politik seringkali dibingkai sebagai pertarungan antara kebaikan dan kejahatan, atau setidaknya antara dua kubu yang saling bertentangan secara diametral. Politisi diidentifikasi sebagai "penyelamat" atau "perusak," memudahkan audiens untuk memilih sisi dan terlibat secara emosional, layaknya menonton film laga.
-
Fokus pada Konflik dan Drama: Alih-alih membahas solusi, media seringkali menyoroti perselisihan, debat sengit, dan pertengkaran antar politisi. Debat publik disajikan sebagai "pertarungan gladiator" di mana yang menang adalah yang paling keras, paling cerdik dalam menyerang, atau paling piawai dalam memutarbalikkan fakta, bukan yang paling rasional atau solutif.
-
Personifikasi dan Sentimen: Kebijakan publik yang rumit seringkali direduksi menjadi isu pribadi atau sentimen. Misalnya, reformasi ekonomi dibingkai sebagai "perang" antara pemerintah dan rakyat, atau perubahan undang-undang dianggap sebagai "serangan" terhadap kelompok tertentu. Ini memicu respons emosional daripada analisis rasional.
-
Sensasionalisme dan Judul Bombastis: Media online khususnya, sangat bergantung pada clickbait. Judul-judul seperti "Politisi X Gegerkan Publik dengan Pernyataan Kontroversial," "Terungkap! Skandal Mengguncang Istana," atau "Perang Dingin Antar Menteri Makin Memanas" adalah contoh bagaimana berita politik diubah menjadi konten yang memancing rasa penasaran, seringkali tanpa memberikan konteks atau detail yang memadai.
-
Peran Pundit dan Analis sebagai "Komentator Pertandingan": Program bincang-bincang politik seringkali menghadirkan panelis yang berfungsi lebih sebagai komentator olahraga. Mereka menganalisis "strategi" politisi, "poin" yang didapat dalam debat, dan "peluang kemenangan," daripada membahas implikasi kebijakan secara mendalam. Pandangan mereka seringkali partisan, memperkuat polarisasi yang ada.
-
Survei sebagai "Papan Skor": Hasil survei elektabilitas atau popularitas dipublikasikan secara masif dan seringkali dijadikan fokus utama pemberitaan, seolah-olah itu adalah satu-satunya indikator keberhasilan. Ini mengubah proses politik menjadi perlombaan angka, mengabaikan kualitas kepemimpinan atau substansi program.
Dampak Buruk pada Demokrasi dan Partisipasi Publik
Komodifikasi politik sebagai hiburan memiliki konsekuensi serius bagi kesehatan demokrasi:
-
Pendangkalan Isu dan Trivialisasi: Masalah-masalah serius yang membutuhkan pemikiran mendalam dan solusi komprehensif direduksi menjadi slogan, soundbite, atau meme. Publik kehilangan kesempatan untuk memahami kompleksitas masalah dan implikasi dari berbagai kebijakan.
-
Erosi Kepercayaan Publik: Ketika politik terus-menerus disajikan sebagai drama penuh intrik dan skandal, publik menjadi sinis dan apatis. Mereka mungkin merasa bahwa semua politisi sama saja, bahwa politik adalah permainan kotor, dan bahwa partisipasi mereka tidak akan membuat perbedaan.
-
Polarisasi dan Fragmentasi Sosial: Penekanan pada konflik dan narasi "kita vs. mereka" memperdalam jurang pemisah antara kelompok-kelompok masyarakat. Diskusi yang sehat dan kompromi menjadi sulit dicapai karena setiap pihak sudah terprogram untuk melihat lawan sebagai musuh.
-
Politisi Berperilaku sebagai Aktor: Menyadari bahwa media mencari drama, politisi cenderung menyesuaikan diri. Mereka mungkin lebih fokus pada penampilan, retorika provokatif, atau menciptakan momen-momen viral, daripada pada kerja keras di balik layar atau perumusan kebijakan yang efektif.
-
Distorsi Prioritas: Isu-isu yang penting tetapi kurang "seksi" atau dramatis mungkin terabaikan, sementara isu-isu yang sensasional tetapi kurang relevan mendominasi ruang berita.
Menuntut Tanggung Jawab dan Literasi Media
Mengubah politik menjadi komoditas hiburan adalah jalan pintas yang berbahaya bagi media. Meskipun mungkin mendatangkan keuntungan jangka pendek dalam bentuk rating dan klik, ini mengikis fondasi demokrasi dan melemahkan fungsi kritis media itu sendiri.
Maka, ada dua tuntutan utama:
-
Tanggung Jawab Media: Media arus utama harus kembali pada etika jurnalistik yang mengutamakan akurasi, objektivitas, kedalaman, dan konteks. Mereka harus berani melawan godaan sensasionalisme demi memberikan informasi yang mendidik dan memberdayakan publik, bukan sekadar menghibur.
-
Literasi Media Publik: Masyarakat juga memiliki peran penting. Kita harus menjadi konsumen berita yang cerdas dan kritis. Pertanyakan narasi yang terlalu disederhanakan, cari sumber berita yang beragam, dan fokus pada substansi daripada drama. Mendukung jurnalisme investigatif yang independen dan berkualitas adalah investasi dalam demokrasi kita sendiri.
Ketika politik menjadi panggung hiburan, yang dipertaruhkan bukanlah sekadar rating, melainkan masa depan demokrasi kita. Sudah saatnya kita menuntut lebih dari sekadar tontonan, dan kembali pada esensi politik sebagai upaya kolektif untuk mencapai kebaikan bersama.
