Bayangan Kelabu di Universitas Paramarta: Misteri Pembunuhan Profesor Arjuna yang Tak Terpecahkan Selama Satu Dekade
Pada malam kelam 15 Oktober 2014, sebuah tragedi mengguncang fondasi Universitas Paramarta, sebuah institusi pendidikan tua yang berdiri megah dengan arsitektur kolonialnya. Di balik dinding-dinding kokoh yang telah menyaksikan berabad-abad peradaban, terkuaklah sebuah misteri berdarah yang hingga kini, genap sepuluh tahun berlalu, masih menyisakan bayangan kelabu yang pekat: pembunuhan Profesor Arjuna Wibowo, seorang cendekiawan paling cemerlang dan paling dihormati di kampus tersebut.
Sang Maestro dan Warisan yang Terkubur
Profesor Arjuna Wibowo bukan sekadar dosen biasa. Ia adalah ikon. Seorang filolog dan arkeolog ulung yang namanya harum hingga ke kancah internasional. Karyanya tentang naskah-naskah kuno Nusantara dan penemuan artefak-artefak langka telah mengubah cara pandang dunia terhadap sejarah peradaban Asia Tenggara. Dengan rambut yang mulai memutih namun mata yang selalu berbinar tajam penuh rasa ingin tahu, ia adalah sosok karismatik yang dicintai mahasiswanya dan disegani koleganya—meskipun tak jarang, kecemerlangannya juga memicu rasa iri dan persaingan sengit.
Kantornya, yang terletak di lantai tiga Gedung Filologi, adalah sebuah labirin buku-buku tua, peta-peta usang, dan artefak-artefak yang tak ternilai. Di sanalah ia menghabiskan sebagian besar waktunya, menyingkap rahasia masa lalu, seringkali hingga larut malam. Ruangan itu, dengan jendela-jendela tinggi menghadap taman kampus yang rimbun, seolah menjadi benteng pengetahuannya.
Malam Berdarah 15 Oktober 2014: Penemuan yang Mengguncang
Malam itu, hujan lebat mengguyur Universitas Paramarta, seolah langit ikut menangisi peristiwa yang akan terjadi. Sekitar pukul 02.00 dini hari, seorang mahasiswa bimbingan Profesor Arjuna, Rian, yang sedang mengejar deadline skripsi, nekat menyambangi kantor sang profesor. Ia berharap bisa mendapatkan revisi terakhir dari bimbingannya yang terkenal tak kenal waktu.
Namun, pemandangan yang menyambutnya adalah mimpi buruk. Pintu kantor Profesor Arjuna, yang biasanya selalu rapi, sedikit terbuka. Di dalamnya, Profesor Arjuna tergeletak di lantai, di antara tumpukan buku dan kertas berserakan. Sebuah pukulan keras di kepala telah merenggut nyawanya secara brutal. Darah mengering di lantai kayu tua, dan kaca mata khas sang profesor tergeletak pecah di sampingnya. Ruangan itu, yang biasanya tertata rapi, kini menjadi saksi bisu kekerasan yang mengerikan.
Rian, yang syok berat, segera berteriak meminta tolong. Dalam hitungan menit, penjaga malam dan beberapa mahasiswa lain berdatangan. Kepanikan pecah, dan tak lama kemudian, sirine polisi memecah kesunyian malam di kampus tua itu.
Pusaran Investigasi: Jejak yang Menyesatkan
Tim Satuan Reserse Kriminal Polresta Jakarta tiba di lokasi dengan cepat. TKP segera diisolasi, namun hujan deras telah menyulitkan upaya pengumpulan bukti. Lumpur dan jejak kaki di koridor menjadi samar, dan listrik kampus sempat padam beberapa saat sebelum kejadian, membuat rekaman CCTV di beberapa titik menjadi tidak jelas atau bahkan kosong.
Penyelidikan awal mengidentifikasi beberapa poin krusial:
- Senjata Pembunuhan: Tidak ditemukan di lokasi. Diyakini pelaku membawanya pergi.
- Motif: Paling misterius. Tidak ada tanda-tanda perampokan. Dompet dan barang berharga sang profesor masih utuh. Namun, ada satu hal penting yang hilang: sebuah naskah kuno yang baru saja ditemukan Profesor Arjuna dan sedang dalam tahap penelitian intensif. Naskah itu diyakini berisi terjemahan atau interpretasi baru tentang sebuah dinasti kuno yang bisa mengubah paradigma sejarah.
- Waktu Kejadian: Antara pukul 23.00 hingga 01.30, berdasarkan kesaksian beberapa mahasiswa yang melihat lampu kantornya masih menyala, dan Rian yang menemukannya.
Para Tersangka Awal:
- Dr. Brama Adiyasa: Kolega sekaligus rival utama Profesor Arjuna. Persaingan akademis mereka sudah menjadi rahasia umum. Dr. Brama dikenal ambisius dan seringkali merasa terbayangi oleh kecemerlangan Arjuna. Alibinya malam itu lemah; ia mengaku pulang larut dan tidur, namun tidak ada yang bisa mengonfirmasi secara pasti.
- Maya Lestari: Mantan mahasiswa bimbingan Profesor Arjuna yang gagal dalam tesisnya dan terpaksa DO. Maya dikenal memiliki dendam pribadi terhadap sang profesor, yang ia anggap terlalu kaku dan tidak memberinya kesempatan kedua. Ia terlihat di sekitar kampus pada malam kejadian, namun mengaku hanya ingin mengambil buku di perpustakaan.
- Pak Darto: Penjaga malam senior yang bertugas di Gedung Filologi malam itu. Ia mengaku tidak melihat atau mendengar apapun yang mencurigakan, namun ada beberapa kesaksian yang menyebutkan Pak Darto terlihat gelisah dan seringkali memberikan jawaban berbelit-belit saat diinterogasi. Ia sempat melaporkan adanya "sosok bayangan" yang melintas cepat di lorong, namun tidak bisa mengidentifikasinya.
Meski interogasi intensif dilakukan dan berbagai teori dikembangkan, polisi tidak pernah menemukan bukti kuat yang cukup untuk menahan atau menuntut salah satu dari mereka. Kasus ini menemui jalan buntu.
Teori, Bisikan, dan Kutukan Kampus
Seiring berjalannya waktu, misteri pembunuhan Profesor Arjuna menjadi mitos urban di Universitas Paramarta. Bisikan-bisikan beredar di antara mahasiswa dan staf:
- Persaingan Akademis Berdarah: Banyak yang percaya bahwa Dr. Brama atau pihak lain yang iri dengan penemuan naskah kuno adalah pelakunya. Naskah yang hilang itu mungkin kunci segalanya.
- Konspirasi Besar: Beberapa teori ekstrem menyebutkan bahwa Profesor Arjuna mungkin menemukan sesuatu yang terlalu besar, sebuah rahasia yang mengancam kekuasaan atau reputasi pihak tertentu, baik di dalam maupun di luar lingkungan akademis.
- Dendam Pribadi: Dendam dari mantan mahasiswa atau pihak lain yang merasa dirugikan oleh Profesor Arjuna.
- Kutukan Kuno: Beberapa mahasiswa bahkan mengaitkan kejadian ini dengan "kutukan" dari artefak-artefak kuno yang dibawa Profesor Arjuna ke kampus, atau bahkan arwah penunggu kampus tua itu.
Setiap tahun, pada tanggal 15 Oktober, suasana di Gedung Filologi selalu terasa lebih sunyi dan dingin. Mahasiswa seringkali melaporkan merasakan hawa aneh atau melihat bayangan melintas di lorong dekat kantor almarhum profesor. Ruangan kantornya kini dikunci rapat, menjadi semacam monumen bisu bagi kejeniusan dan tragedi.
Sepuluh Tahun dalam Bayangan Misteri
Kini, satu dekade telah berlalu. File kasus pembunuhan Profesor Arjuna Wibowo telah menjadi "kasus dingin" di arsip kepolisian. Petugas yang menangani kasus ini dulu telah pensiun atau dipindah tugaskan. Universitas Paramarta, meskipun terus berkembang, tetap membawa luka tak tersembuhkan dari peristiwa kelabu itu. Reputasi kampus sedikit tercoreng oleh noda kejahatan yang tak terpecahkan.
Para mantan mahasiswa Profesor Arjuna, yang kini telah sukses di bidang masing-masing, masih sering berkumpul untuk mengenang dan mencoba merajut kembali potongan-potongan teka-teki. Namun, tak satu pun dari mereka yang berhasil mendekati kebenaran. Naskah kuno yang hilang juga tak pernah ditemukan, seolah lenyap ditelan bumi bersama rahasia di baliknya.
Pertanyaan besar masih menggantung di udara Universitas Paramarta: Siapa yang begitu tega menghabisi seorang cendekiawan brilian? Apa motif sebenarnya? Dan akankah kebenaran, setelah satu dekade terkubur, suatu hari nanti akan terungkap dari bayangan kelabu yang menyelimuti kampus tua ini? Atau, apakah misteri pembunuhan Profesor Arjuna akan selamanya menjadi legenda tragis yang tak terpecahkan, sebuah pengingat abadi bahwa bahkan di menara gading ilmu pengetahuan, kegelapan bisa bersembunyi di sudut-sudut yang paling tak terduga?
