Ketika Mimbar Debat Berubah Menjadi Panggung Sindiran: Kematian Substansi dalam Diskusi Publik
Mimbar debat, dalam idealnya, adalah arena suci bagi pertukaran gagasan, adu argumen yang logis, dan pencarian solusi terbaik untuk berbagai permasalahan publik. Di sanalah nalar dipertaruhkan, data disajikan, dan visi masa depan diadu. Namun, belakangan ini, kita menyaksikan pergeseran yang mengkhawatirkan: arena debat publik, baik di televisi, media sosial, maupun forum-forum diskusi, kerap berubah menjadi panggung sindiran, ejekan, dan serangan personal, jauh dari esensi substansi yang seharusnya menjadi pijakannya.
Dari Gagasan Cerdas ke Lelucon Pedas: Mengapa Ini Terjadi?
Fenomena ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari beberapa faktor kompleks yang saling terkait:
-
Dahaga Sensasi dan Rating: Media, yang seharusnya menjadi fasilitator diskusi berkualitas, terkadang terperangkap dalam logika pasar. Konten yang memicu emosi, konfrontasi, dan "drama" cenderung lebih viral dan mendongkrak rating. Debat yang "panas" dengan saling sindir seringkali dianggap lebih menarik daripada diskusi mendalam yang mungkin terasa "membosankan" bagi sebagian penonton. Para panelis pun terdorong untuk tampil provokatif demi mendapatkan perhatian.
-
Politik Identitas dan Polarisasi: Di era polarisasi yang semakin dalam, debat seringkali bukan lagi tentang mencari kebenaran atau solusi, melainkan tentang memperkuat identitas kelompok dan menyerang "yang lain." Lawan bicara tidak dilihat sebagai mitra diskusi, melainkan sebagai musuh yang harus dikalahkan. Dalam konteks ini, sindiran dan ejekan menjadi senjata ampuh untuk mendiskreditkan lawan tanpa harus repot-repot membantah argumennya secara substansial.
-
Keterampilan Berdebat yang Miskin: Banyak pihak yang terlibat dalam debat publik, baik politisi, aktivis, maupun komentator, kurang terlatih dalam seni berdebat yang konstruktif. Mereka mungkin mahir dalam retorika menyerang atau melontarkan punchline, tetapi lemah dalam menyusun argumen yang koheren, menyajikan bukti pendukung, atau menanggapi kritik secara rasional. Alhasil, ketika terdesak dalam substansi, jalan pintas termudah adalah melarikan diri ke serangan personal atau sindiran.
-
Budaya Instan dan Dangkal Media Sosial: Platform media sosial, dengan karakternya yang serba cepat, singkat, dan cenderung visual, turut membentuk cara kita berinteraksi. Opini seringkali disederhanakan menjadi soundbite atau meme. Debat yang kompleks disusutkan menjadi pertukaran kalimat pedas. Budaya ini mendorong preferensi pada respons yang cepat dan tajam, bukan analisis yang mendalam. Sindiran, karena sifatnya yang ringkas dan memancing tawa atau amarah, sangat cocok dengan format ini.
-
Kepentingan Politik Jangka Pendek: Bagi sebagian aktor politik, tujuan utama debat bukanlah untuk meyakinkan publik dengan gagasan, melainkan untuk memenangkan persepsi, mencitrakan diri sebagai pihak yang kuat, atau menjatuhkan lawan. Dalam skenario ini, sindiran dapat menjadi taktik efektif untuk mengalihkan perhatian dari kelemahan argumen sendiri atau menciptakan narasi negatif tentang lawan.
Dampak Buruknya: Erosi Nalar dan Kualitas Demokrasi
Ketika debat publik didominasi oleh saling sindir, dampaknya sangat merugikan bagi masyarakat dan kualitas demokrasi:
-
Erosi Kepercayaan Publik: Masyarakat menjadi apatis dan sinis terhadap proses diskusi publik. Mereka merasa bahwa debat hanya sekadar tontonan hiburan atau ajang saling serang tanpa ada niat tulus untuk mencari solusi. Kepercayaan terhadap institusi politik dan media pun terkikis.
-
Solusi Kebijakan yang Terhambat: Permasalahan riil yang dihadapi masyarakat—mulai dari ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga lingkungan—tidak pernah dibahas secara mendalam. Energi habis untuk saling serang, bukan untuk merumuskan kebijakan yang efektif. Akibatnya, masalah-masalah tersebut terus menumpuk tanpa penyelesaian yang berarti.
-
Polarisasi yang Makin Dalam: Saling sindir memperlebar jurang pemisah antar kelompok. Ini bukan lagi sekadar perbedaan pandangan, melainkan kebencian yang dipicu oleh retorika yang merendahkan. Masyarakat terpecah belah, dan dialog konstruktif menjadi semakin sulit.
-
Degradasi Kualitas Demokrasi: Demokrasi yang sehat membutuhkan warga negara yang terinformasi dan mampu membuat keputusan rasional. Jika debat publik gagal mendidik dan hanya menyajikan pertunjukan saling ejek, maka kapasitas masyarakat untuk memilih pemimpin dan kebijakan yang tepat akan melemah. Ini adalah kematian nalar publik yang sesungguhnya.
-
Kegagalan dalam Pendidikan Publik: Debat seharusnya menjadi forum pembelajaran bagi masyarakat. Namun, ketika isinya hanya sindiran, publik tidak mendapatkan pemahaman baru tentang isu-isu kompleks, tidak belajar tentang cara berpikir kritis, dan tidak melihat contoh bagaimana perbedaan pendapat dapat diselesaikan secara beradab.
Mengembalikan Debat ke Khittahnya: Jalan Keluar dari Lubang Hitam Nalar
Mengembalikan marwah debat publik bukanlah tugas mudah, tetapi mutlak diperlukan. Beberapa langkah yang dapat diambil:
-
Peran Media yang Bertanggung Jawab: Media harus menjadi garda terdepan dalam menjaga kualitas debat. Ini berarti memprioritaskan substansi di atas sensasi, menetapkan aturan main yang ketat, dan memiliki moderator yang tegas dalam mengarahkan diskusi agar tetap pada jalur argumen.
-
Pendidikan Politik dan Logika Kritis: Penting untuk meningkatkan literasi politik dan kemampuan berpikir kritis masyarakat sejak dini. Mempelajari logika, cara menyusun argumen, dan mengenali logical fallacies (kesesatan berpikir) akan membentengi publik dari retorika kosong dan serangan ad hominem.
-
Penekanan pada Etika Berdebat: Peserta debat perlu diingatkan kembali tentang etika berdiskusi: menghargai lawan bicara, fokus pada argumen bukan pada pribadi, dan kesediaan untuk mendengarkan serta mempertimbangkan pandangan yang berbeda.
-
Peran Penyelenggara Debat yang Tegas: Baik lembaga penyiaran, organisasi, maupun komisi penyelenggara debat harus memiliki regulasi yang jelas dan konsisten dalam menegakkan standar kualitas. Moderator harus berani memotong interupsi yang tidak relevan atau serangan personal.
-
Kesadaran dan Tuntutan Publik: Masyarakat sendiri memiliki kekuatan untuk menuntut kualitas. Dengan tidak merespons atau bahkan menolak konten debat yang hanya berisi sindiran, publik dapat mengirimkan pesan bahwa mereka menginginkan diskusi yang lebih cerdas dan substansial.
Debat publik adalah jantung dari proses demokrasi. Jika jantung itu hanya berdetak dengan irama saling sindir dan ejekan, maka kita sedang menyaksikan kematian nalar yang perlahan, namun pasti. Saatnya bagi kita semua untuk bersama-sama mengembalikan mimbar debat pada fungsinya yang mulia: sebagai arena kontestasi gagasan demi kemajuan bangsa, bukan panggung komedi murahan yang mengubur substansi.
