Berita  

Kartu Prakerja Diperluas: Apakah Efisien buat Pengangguran Terkini

Kartu Prakerja Diperluas: Mampukah Menjadi Jawaban Efisien bagi Pengangguran Terkini?

Gelombang disrupsi ekonomi global dan revolusi industri 4.0 telah menciptakan lanskap pasar kerja yang dinamis sekaligus penuh tantangan. Angka pengangguran, terutama di kalangan usia produktif, menjadi salah satu indikator krusial yang terus menjadi perhatian pemerintah. Di tengah situasi ini, program Kartu Prakerja hadir sebagai inisiatif strategis, yang kini telah diperluas cakupannya. Pertanyaannya, seberapa efisienkah program yang diperbarui ini dalam menjawab kebutuhan mendesak para pengangguran terkini?

Evolusi Kartu Prakerja: Dari Jaring Pengaman ke Penopang Kompetensi

Diluncurkan pertama kali pada April 2020 di tengah badai pandemi COVID-19, Kartu Prakerja awalnya mengemban dua misi utama: sebagai jaring pengaman sosial melalui insentif tunai, sekaligus sebagai program peningkatan kompetensi kerja. Kombinasi ini krusial untuk menopang daya beli masyarakat yang terdampak PHK dan juga untuk mempersiapkan mereka menghadapi perubahan tuntutan pasar kerja pasca-pandemi.

Kini, memasuki tahun keempat pelaksanaannya, Kartu Prakerja telah mengalami "perluasan" dan penyesuaian fokus. Pemerintah semakin mengarahkan program ini untuk kembali ke khittahnya sebagai program pengembangan kompetensi kerja yang bersifat skilling, reskilling, dan upskilling. Perluasan ini tidak hanya berarti peningkatan kuota atau anggaran, tetapi juga pergeseran penekanan pada kualitas pelatihan dan relevansinya dengan kebutuhan industri. Mekanisme pelatihannya pun kini kembali mayoritas luring (offline) atau bauran (blended), yang diharapkan dapat meningkatkan interaksi dan kualitas pembelajaran dibandingkan pelatihan daring penuh.

Potensi Efisiensi bagi Pengangguran Terkini

Perluasan Kartu Prakerja membawa sejumlah potensi efisiensi yang menjanjikan bagi para pencari kerja dan pengangguran:

  1. Aksesibilitas Pelatihan Beragam: Program ini membuka pintu bagi jutaan individu untuk mengakses pelatihan yang mungkin tidak terjangkau sebelumnya. Dengan ribuan jenis kursus yang tersedia, mulai dari keterampilan digital (coding, data science), kewirausahaan, hingga keterampilan vokasi (otomotif, tata boga), pengangguran memiliki kesempatan untuk memilih jalur yang paling sesuai dengan minat dan tuntutan pasar.
  2. Peningkatan Daya Saing: Di era pasar kerja yang kompetitif, memiliki sertifikasi atau keterampilan baru adalah nilai tambah signifikan. Prakerja memungkinkan individu untuk mengisi gap kompetensi yang mereka miliki, meningkatkan posisi tawar mereka di mata calon pemberi kerja, atau bahkan menciptakan peluang wirausaha baru.
  3. Insentif yang Mendorong Partisipasi: Meskipun fokusnya bergeser, insentif finansial tetap menjadi daya tarik. Insentif ini dapat membantu meringankan beban ekonomi jangka pendek, sekaligus memotivasi peserta untuk menyelesaikan pelatihan dan menerapkan ilmu yang didapat.
  4. Inklusi dan Jangkauan Luas: Dengan skema pendaftaran yang relatif mudah diakses secara daring, Kartu Prakerja mampu menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas, termasuk mereka yang berada di daerah terpencil atau kelompok rentan yang kesulitan mengakses pelatihan formal.
  5. Data Pasar Kerja yang Berharga: Melalui data preferensi pelatihan dan latar belakang peserta, pemerintah dan pemangku kepentingan dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang kebutuhan keterampilan di berbagai sektor, membantu dalam perumusan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih tepat sasaran.

Tantangan dan Keterbatasan Efisiensi

Meski memiliki potensi besar, efisiensi Kartu Prakerja bagi pengangguran terkini tidak lepas dari sejumlah tantangan dan keterbatasan yang perlu diatasi:

  1. Relevansi Pelatihan dengan Kebutuhan Industri: Ini adalah inti dari efisiensi. Apakah semua kursus yang ditawarkan benar-benar relevan dengan kebutuhan riil pasar kerja saat ini dan masa depan? Jika tidak, peserta hanya akan memiliki sertifikat tanpa prospek pekerjaan yang jelas. Kurasi yang ketat dan pembaruan kurikulum secara berkala berdasarkan demand industri mutlak diperlukan.
  2. Kualitas Lembaga Pelatihan: Jumlah mitra pelatihan yang banyak tidak selalu berkorelasi dengan kualitas. Ada kekhawatiran mengenai kualitas beberapa lembaga pelatihan yang mungkin hanya berorientasi pada jumlah peserta tanpa memberikan materi yang mendalam dan aplikatif.
  3. Gap antara Pelatihan dan Penempatan Kerja: Kartu Prakerja adalah program pelatihan, bukan penempatan kerja. Ketiadaan mekanisme job matching yang kuat dan terintegrasi bisa membuat peserta tetap kesulitan mencari pekerjaan meskipun sudah memiliki sertifikat.
  4. Motivasi Peserta: Tidak semua peserta murni termotivasi untuk belajar. Sebagian mungkin lebih tertarik pada insentif tunai, yang berpotensi mengurangi keseriusan dalam mengikuti pelatihan dan menyerap ilmu.
  5. Aksesibilitas Infrastruktur: Meskipun pelatihannya kembali luring, tantangan akses ke lokasi pelatihan, biaya transportasi, dan bahkan kepemilikan perangkat digital untuk bagian daring tetap menjadi hambatan bagi sebagian kelompok.
  6. Pengukuran Dampak Jangka Panjang: Melacak dampak Kartu Prakerja terhadap tingkat penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan peserta dalam jangka panjang masih menjadi pekerjaan rumah. Tanpa data ini, klaim efisiensi sulit divalidasi secara komprehensif.

Rekomendasi untuk Peningkatan Efisiensi

Agar Kartu Prakerja benar-benar menjadi lokomotif solusi bagi pengangguran terkini, beberapa langkah strategis perlu dipertimbangkan:

  1. Kurasi Pelatihan Berbasis Data: Perkuat analisis data pasar kerja untuk mengidentifikasi keterampilan yang paling dibutuhkan (high-demand skills) dan pastikan pelatihan yang ditawarkan selaras. Lakukan evaluasi berkala terhadap efektivitas dan relevansi setiap kursus.
  2. Sinergi dengan Industri: Libatkan perusahaan dan asosiasi industri secara aktif dalam perumusan kurikulum, penyediaan mentor, hingga potensi penyerapan lulusan. Program magang atau on-the-job training dapat menjadi jembatan krusial.
  3. Integrasi dengan Bursa Kerja: Kembangkan platform job matching yang lebih kuat, terintegrasi dengan bursa kerja nasional dan platform pencarian kerja swasta, untuk memfasilitasi penempatan lulusan.
  4. Peningkatan Kualitas Lembaga Pelatihan: Terapkan standar akreditasi yang lebih ketat, berikan pelatihan bagi instruktur, dan lakukan audit kualitas secara rutin terhadap lembaga pelatihan mitra.
  5. Bimbingan Karier yang Komprehensif: Sediakan layanan bimbingan karier dan konseling yang membantu peserta mengidentifikasi jalur karier yang sesuai, mempersiapkan wawancara, dan menyusun curriculum vitae (CV) yang menarik.
  6. Pemanfaatan Teknologi untuk Aksesibilitas: Meskipun kembali luring, optimalisasi penggunaan teknologi untuk menjangkau peserta di daerah terpencil atau memberikan materi tambahan secara daring tetap penting.

Kesimpulan

Perluasan Kartu Prakerja adalah langkah maju yang ambisius dalam upaya pemerintah menanggulangi masalah pengangguran dan meningkatkan kualitas SDM. Program ini memiliki potensi besar untuk menjadi jembatan bagi para pengangguran agar dapat mengakses keterampilan baru dan kembali berdaya saing di pasar kerja. Namun, efisiensinya sangat bergantung pada kemampuan untuk mengatasi berbagai tantangan, mulai dari relevansi pelatihan, kualitas penyedia, hingga mekanisme penempatan kerja.

Kartu Prakerja bukanlah peluru perak yang akan menyelesaikan masalah pengangguran dalam semalam. Ia adalah alat strategis yang membutuhkan penyempurnaan dan adaptasi berkelanjutan. Dengan fokus yang lebih tajam pada kualitas, relevansi, dan integrasi dengan kebutuhan industri, program ini bisa menjadi jawaban efisien yang diidamkan, bukan sekadar janji manis, bagi harapan para pengangguran terkini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *